Lagi Soal Kopi

Awal mula, aku hanya menjadi penikmat kopi. Dalam hati, aku tak akan mampu hidup di dalam kafein yang terlalu pahit untuk dinikmati. Semua menjadi terlalu hitam dan pekat soal rasa. Aku takut, aku menjadi kapok menikmati diri sendiri.

Ketika banyak kepala menduga aku hanyalah remeh-temeh tak berupa.

Maka aku mulai ingin lebih dari sekadar menikmati, menjelma beberapa yang seolah-olah adalah dewa. Melangit dan tak ingin membumi. Hal itu ku ketahui sejak aku membiarkan terbang kemana dan kepada apapun tanpa ingin kembali ke sangkar sebelum benar-benar jatuh karena kelelahan. Beberapa kali aku tumbang dan terkeluh pada jendela. Ya, teman bercerita.

Kala lelah melangit, maka aku membumi. Berintuisi dalam puisi. Lalu tak hanya menikmati kopi tapi hampir setiap hari hidup bersama kopi.
Aku menjadi pecandu yang adiktif. Seringkali menjawab dengan seadanya alasan menyukai pahitnya kopi. Bahwa 'kopi dan pahit adalah hal yang perlu dinikmati setiap hari, hidup harus selalu sadar dengan rasa pahit dan mengurangi manis agar tak terlalu merasakan sakit'.

Beberapa lelah mengingatkan untuk mengurangi takaran. Seberapapun bahaya, aku tahu bahwa kopi masih menjadi teman yang menenangkan pada waktu bersitegang. Aroma tubuhnya yang panas selalu menyatu dengan perasaku. Terdekat mengetahui keberadaanku yang selalu menyatu hingga beberapanya ingin sekali membahagiakan dengan mimpi menanam biji kopi atau membuat kedai. Barangkali akan ada jawabnya pada siapa aku akan kembali menemui kopi. Jangan lupa, aku begitu ingin menikmati kopi di sore hari pada halaman belakang rumah yang tertata rapi.

Yogyakarta, 13 Februari 2016

Komentar

Postingan Populer