22 Februari Dini Hari
Tepat dua butir obat tidur tertelan sejak ia
tak tahu berbuat apa
Ada yang menenangkan, bukan obat itu sayang
Tapi suara di kota sebelah yang masih ia
temukan
Walau dengan keadaan yang berbeda
Suaranya masih sama
Masih khawatir dan penuh tanda tanya
Sungguh hafal dengan tabiatnya menahan
kebiasaan
Biasanya bibir itu penuh suara seperti burung
kala pagi hari
Tapi dini hari itu ia mengerti
Ia hanya perlu menemani
Ia perlu berdiam diri
Duduk di halaman rumah, tentu resah
‘Banyak nyamuk’ katanya
Ia tidak ingat apa-apa sejak ia setengah sadar
Lalu menutup mata
***
Ada yang ia tanggalkan dini hari itu bersama
seikat keraguan
Ia harus terus berjalan
Pulang dan segala kemungkinan harus
dipertaruhkan
Katanya, sambil meracau ‘sedang memilih mau bermimpi apa tidur nanti’
Pagi
hari, ia hanya menanti diri sendiri
Yogyakarta,
22 Februari 2016


Komentar
Posting Komentar