Kopi
Buku dengan sejumlah dinamika di dalamnya. Aku menyenangi buku tapi tidak dengan menerjemahkannya agar semua manusia lebih mudah memahaminya. Aku begitu intim, tetapi mauku hanya soal hubungan kami yang begitu intim. Menelaah tiap kata dalam kalimat. Atau bahkan sebait puisi tiap bab.
Aku seringkali mendapati hidup manusia dalam buku, baik dalam teori atau cerita. Semua sama. Semua soal manusia dan manusianya. Kenyataan bahwa semuanya akan bermuara pada cara manusia dalam hidupnya. Kadang berjalan lurus, kadang mencoba jalan lain supaya lekas sampai tujuan. Intinya adalah bagaimana manusia ingin memiliki makna dalam hidupnya. Selalu hanya ingin mendapati bahagia dan menyesali tiap duka.
Aku selalu ingin memanusiakan diriku dalam secangkir kopi. Aku selalu memilih kopi pahit atau sedikit gula. Terbiasa espresso, arabica, atau robusta. Mereka sama-sama bernilai sama. Pahit yang begitu membahagiakan. Seteguk dengan senyuman dan pejaman aku merasa begitu hidup tak boleh disia-siakan. Tegukan selanjutnya aku senyum dengan memandang siapa saja yang ada dihadapanku. Tegukan-tegukan sisanya adalah kelengkapan dari sederhananya memaknai hidup. Dalam pikiran yang selalu penuh kelu keluh, kopi selalu begitu. Sekali lagi, selalu begitu.
***
Sedewasa ini, kopi adalah teman terbaik dalam hidup. Mendamaikan tiap pergolakan dalam diri, Mengheningkan ramai dalam kepala. Selalu candu soal rindu. Seberapapun kafein yang akan membunuh jantungku kelak, ia akan terus hadir pada sudut diriku.


Komentar
Posting Komentar