Rindu dan Sakit
"karena rindu adalah sebenar-benarnya rasa sakit"
tiba-tiba aku masih berputar seputar pembicaraan soal itu
mungkin memang begitu, aku dalam diam menyepakati perihal rindu
dalam satu hari aku menghabiskan diri membaca buku tetapi selalu ada yang janggal
entah menutup atau memulai hari
muncul soal rindu
rindu antara dua orang manusia berbeda jenis kelamin
atau mungkin rindu sebuah kumpulan manusia bernama keluarga
atau juga rindu sebuah kumpulan ikatan pertemanan
seberapapun kopi kau teguk hingga cangkir benar-benar merasa kering
seutuhnya rindu tetap ada
jangan lupa juga soal rindu kepada Tuhan Maha Hidup
aku mulai tak begitu menggebu soal itu
beberapa waktu pikiran pergi ke sana ke mari menjadi sangat antah berantah
juga soal keberadaan Dia yang Maha memiliki soal hidup
kadang mempercayainya sepenuh kalbu
kadang menganggapnya hanya buatan manusia dan tentu saja semu
ada yang ragu-ragu di ambang waktu
aku
tak akan ada yang pernah benar-benar dapat menerjemahkan kata aku
siapa apa mengapa kapan dimana bagaimana adanya aku
aku tak pernah tahu soal rasa tahu
aku pernah tahu kalau aku benar-benar rindu atas aku
***
soal rasa rindu dan tentu rasa sakit
aku seringkali berada di sudut dengan keadaan tangan tergigit
memikirkan rasa rindu yang sudah bertumpuk kepada ibu
sekesal-kesalnya aku akan pemikiran ibu yang dirasa alot
aku tetap berada di dalam ibu
semakin aku merindu ibu nyatanya aku semakin sakit
pikiranku tiba-tiba tak sesederhana itu
seorang teman berkata, aku seperti sepenuhnya mempertanggungjawabkan soal ibu
aku tak pernah benar-benar dapat menerjemahkan soal ibu
yang aku tahu rasa rindu dengan sakit itu benar-benar ada
semakin aku mengasihi ibu dengan keterbatasan
semakin aku tak dapat menemui aku
aku rindu ibu
dan aku lebih merindukan aku
***
yang aku tahu rasa rindu dan sakit itu benar-benar ada
rindu
dan tentu rasa sakit.
Yogyakarta, 25 Januari 2016


Komentar
Posting Komentar