Membaca

Aku menyadari beberapa hitungan detik yang berubah menjadi menit hingga jam hingga hari hingga minggu hingga bulan hingga tahun dan terus berjalan.
Aku tak pernah paham dari mana waktu dimulai, mungkin sore hari karena matahari meninggalkan tanpa menanggalkan atau dini hari yang berduka kehilangan sang malam dan menemui bahagianya ketika pagi diikuti matahari.
Aku tak pernah benar-benar paham soal pergantian waktu yang sebenar-benarnya.
Aku terus bertambah tua yang mungkin tak selalu diiringi dengan dewasa, berkurang umur tiap beberapa hitungan yang baru saja aku tuliskan dan semakin disadari.
Aku terus belajar. Belajar apa saja. Soal diri sendiri atau juga manusia-manusia pembuat masalah di dunia. Tentu aku juga di dalamnya.
Akhir-akhir ini aku terus belajar membaca. Seiring dengan seorang yang mulai gemar mengingatkanku dalam sebuah pesan pendek.


"Jangan lupa membaca ya hari ini :)"


Aku tentu akan melakukannya tanpa didikte. Ketahuilah. Hanya saja aku merasa bersyukur, hal sesederhana membaca yang sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan dapat kembali aku rasakan untuk dibudayakan. Aku tak pernah lupa bagaimana aku selalu menjadikan buku sebagai harta karun paling berharga. Aku tak pernah dapat bertoleransi ketika melihatnya. Ya, biasanya aku hening dengan sejumlah keluh jika tidak mendapatkannya atau mungkin aku menghindari di mana pun buku berada. Aku tidak akan pernah menyesal berapa pun uang yang dihabiskan hanya untuk membeli sebuah kertas dengan tulisan dengan banyak halaman.

Soal membaca tak hanya terbatas dalam membaca buku atau tulisan-tulisan di dunia maya. Aku masih terus mempelajari dan berada di dalam prosesnya membaca manusia.
Aku biasanya membacanya dimulai dari mata hingga pada kata yang keluar dari mulutnya. Telinga yang seringkali lebih ahli dalam mendengar dengan seksama. Ini persoalan manusia yang banyak mengait-ngaitkannya pada rasa dan jiwa. Bagiku isi kepalanya lebih berharga dibanding basa-basi belaka.

Manusia, dunia, dan membaca.

Aku seperti berada di muka jendela ketika aku membaca pikiran seseorang soal dunia. Aku dapat berubah-ubah dunia seketika. Aku dengan duniaku ketika aku hanyalah aku. Lalu aku menjadi dunia seseorang ketika aku berdua berbicara dengan isi kepalanya. Aku dapat keluar dari jendela tapi hanya sebatas muka. Aku terbatas oleh dada yang menempel pada sisi jendela yang mengingatkan bahwa aku tak dapat memaksakan diri keluar dari jendela. Ini jelas menunjukkan sejauh-jauhnya aku membaca apa yang ada di luar jendela, aku hanyalah aku di dalam duniaku. Aku hanya mampu menggunakan panca inderaku dalam batas diriku untuk membaca semampunya. Dunia luar jendela atau isi kepala lainnya selalu menjadi pembelajaran paling baik soal pengalaman. Membaca dan memahami bahwa dunia juga isi kepala manusia tak pernah sama.

Manusia masih dengan manusianya.
Juga aku yang masih mempelajari diriku seutuhnya.
Membaca manusia.

Yogyakarta, 17 Januari 2016

Komentar

Postingan Populer