Tulisan Halamanmu Berikutnya

Beberapa hari malam menghabisi aku
Bukan sayang, bukan karena aku ingin mengejar garis-garis target yang ku bariskan
Tetapi aku habis dimulai dari udara malam yang menggantung menunggu pagi dan matahari
Biasanya aku mendekap atau didekap kasihmu begitu candu
Jiwaku selalu menjemput untuk sebuah temu
Beberapa hari malam menghabisi aku membiarkannya aku diselimuti ragu penuh peluh yang resah terus mendesah
Beberapa hari malam menghabisi aku dalam diam dan dibiarkan dihangatkan oleh barisan kata yang bukan dari engkau
Demi apa pun aku tak pernah benar-benar menanggalkan rasa kasih tulusku
***
Pagi ini ada yang basah di sudut mataku
Bukan, bukan karena udara dingin yang terlalu menusuk
Tetapi aku tak dapat tak terbuai oleh kesukaanku yaitu sebaris puisimu
Dulu aku selalu meminta bahkan merengek untuk sekalimat kata indahmu
Andalanmu penuh bual-bualan rayuan, kesukaanku karena menikmatinya dengan penuh senyuman
Pagi ini bunga telah kering di dalam jiwa
Entah itu berwarna merah atau putih seperti dua mawar darimu
Kau mengabaikannya dengan banyak alasan hingga benar-benar layu
Mengering untuk tetap bertahan hidup berbeda dengan mengering pasrah pada semesta
Berharap ada yang lucu agar dapat bermain mata dengan tertawa semata-mata
Tetapi aku terbuai semesta yang selalu bercanda sayang, kau terlalu jauh tertinggal di belakang
Aku dan kamu menjadi jarak terdekat sekaligus terjauh seperti planet dengan lintasannya masing-masing
***
Matanya sudah sayu tetapi tetap mau menatapmu
menutupi cemas yang berlebihan dan rasa rindu
Telinganya mendengar seribu lagu, tetapi masih puisimu yang mau ia dengarkan sebelum terlelap dini hari
Ia masih menanti dua puluh satu puisimu dalam taruhan dengan janji
Pipinya masih bulat dan selalu ingin kamu menyentuhnya gemas
jika kamu mau walaupun sudah kuyu karena lebih banyak sedih di muka
Kakinya tidak kemana-mana bahkan lumpuh karena tidak juga dapat menemukan di mana ada kamu
Jari-jarinya mulai malas menulis barisan puisi yang tentu juga kau sukai, bentuk nyata rasa katamu waktu itu
Senyumnya terbawa angin hingga ke ufuk timur
Ini begitu menakutkan, aku takut tak kembali karena rasa kasih yang selalu diterima dengan sakit
***
Pagi ini sayang, aku diam yang penuh percakapan atas aku
Jendela mengasihiku
Kenapa kau tidak?
Ah mungkin iya, tapi aku tak mau sayang
Kasihmu memang benar-benar sungguh banyak
Tapi kasihmu selalu berbentuk rasa sakit
Apa yang bisa kau beri untuk aku yang seringkali tak dipentingkan?
Apa yang harus ku terima tanpa ada yang kau perjuangkan atasku?
Apa kita masih ada?
Apa masih ada sebenar-benarnya bentuk kasih?

Bijaksanalah.


Yogyakarta, 13 Maret 2016

Komentar

Postingan Populer