Sepotong Kalimat, Ndah

sungkan adalah titik di mana aku selalu meragu untuk memulai bicara denganmu
ketahuilah, melupakan harapan tidaklah mudah
diam, menghindar dari kenyataan satu-satunya yang aku lakukan
seperti setumpuk kertas yang kita biarkan berserakan dengan apapun coretannya
atau gelas yang sengaja kau biarkan terisi potongan kertas berisi nasihat, pun pengingat

***
pilihanku saat ini hanya untuk ibu
jelas bukan untukmu
percayalah, sayatannya semakin perih jika terkena air sewaktu-waktu
atau tertiup semilir angin yang ku biarkan tak tertutup pelindung
***

setiap kali aku bercermin, tak hanya muka penuh luka
juga rambut yang kian mengering dan rusak pada ujungnya
bahu yang mulai lelah dengan sikap tegak
punggung yang lebih sering menuntut untuk disandarkan
pinggang yang hanya ingin duduk lebih banyak
juga sepuluh jari kaki yang seringkali memilih tak memakai alas
...
dan jiwa yang sudah dibiarkan mati setelah mengetahui keberadaan diri
soal diperjuangkan, ada yang tak dapat dilupakan
berkali-kali.
semesta berbisik padaku, sore hari biasanya
kita sama-sama babak-belur bukan?
memang tak mendapatkan pilihan selain menikmati
waktu memang seringkali bekerja membuat semesta menjadi lucu

Sepotong kalimatku juga mungkin darimu
"Bijaksanalah, Jangan lupa lakukan apa yang membuatmu benar-benar berbahagia."


Yogyakarta, 10 Maret 2016

Komentar

Postingan Populer