Waktu
Pagi ini aku seperti lahir dari pancaran sinar matahari ke bumi. Aku membumi. Begitu kataku. Fase hidup yang berulang terputar dalam keadaan sadar. Aku selalu berucap pada teman diskusi.
"Aku selalu merasakan waktu dalam dua waktunya masing-masing."
Seringkali lambat bahkan setiap hari yaitu pagi, siang, sore, malam, dini hari, lalu kembali pagi. Begitu memuakkan membiarkan diri menikmati hari-hari dengan gerakan melambat seakan irama alam mengejek seberapa kuat kapalmu berlayar di laut. Tentu aku tak akan pintar menjawab sebab aku bukan orang yang menyukai laut. Sebelum jauh memikir berlayar, aku selalu berhenti dengan ketakutan akan apa yang ada di dalamnya. Gelap dan tak dapat diduga. Terlalu menakutkan bahkan ketika aku memejamkan mata sekalipun. Menghidupkan diri dalam laut menjadi mustahil bagiku. Aku tak pernah berangan menikmati lautan.
Ini bagian waktu kedua, seringkali cepat menyaingi aku yang susah payah berlari marathon pada lintasan terbesar sekalipun. Lawan yang hingga hari ini belum mampu aku kalahkan. Aku seringkali berlari kecil untuk berpikir bagaimana cara untuk berada sejajar dengannya. Barangkali kami dapat berteman dan ia membantuku menyelesaikan semua kemauan semesta sejak aku membumi. Aku selalu hening ketika memperhatikannya terlalu hebat memenangkan atas diriku. Aku selalu membisu dan berharap ia akan memberikan sedekahnya kepadaku. Aku pengemis. Bahkan aku seringkali menunggu mendapatkan sisa makanan dari ia yang sudah kaya akan segala persoalan semesta dan aku terlalu miskin duduk di pinggiran trotoar.
Ha ha ha ha. Tuhan Maha Lucu menciptakan waktu dengan bagian waktunya masing-masing. Aku terlihat begitu menyedihkan dengan berselimut ketakutan. Hidup dengan imajinasi dan berfantasi dalam diri.
Sejak aku membumi, aku akan tetap membiarkan diriku membumi hingga benar-benar membumi.
Jakarta, 27 Desember 2015
"Aku selalu merasakan waktu dalam dua waktunya masing-masing."
Seringkali lambat bahkan setiap hari yaitu pagi, siang, sore, malam, dini hari, lalu kembali pagi. Begitu memuakkan membiarkan diri menikmati hari-hari dengan gerakan melambat seakan irama alam mengejek seberapa kuat kapalmu berlayar di laut. Tentu aku tak akan pintar menjawab sebab aku bukan orang yang menyukai laut. Sebelum jauh memikir berlayar, aku selalu berhenti dengan ketakutan akan apa yang ada di dalamnya. Gelap dan tak dapat diduga. Terlalu menakutkan bahkan ketika aku memejamkan mata sekalipun. Menghidupkan diri dalam laut menjadi mustahil bagiku. Aku tak pernah berangan menikmati lautan.
Ini bagian waktu kedua, seringkali cepat menyaingi aku yang susah payah berlari marathon pada lintasan terbesar sekalipun. Lawan yang hingga hari ini belum mampu aku kalahkan. Aku seringkali berlari kecil untuk berpikir bagaimana cara untuk berada sejajar dengannya. Barangkali kami dapat berteman dan ia membantuku menyelesaikan semua kemauan semesta sejak aku membumi. Aku selalu hening ketika memperhatikannya terlalu hebat memenangkan atas diriku. Aku selalu membisu dan berharap ia akan memberikan sedekahnya kepadaku. Aku pengemis. Bahkan aku seringkali menunggu mendapatkan sisa makanan dari ia yang sudah kaya akan segala persoalan semesta dan aku terlalu miskin duduk di pinggiran trotoar.
Ha ha ha ha. Tuhan Maha Lucu menciptakan waktu dengan bagian waktunya masing-masing. Aku terlihat begitu menyedihkan dengan berselimut ketakutan. Hidup dengan imajinasi dan berfantasi dalam diri.
Sejak aku membumi, aku akan tetap membiarkan diriku membumi hingga benar-benar membumi.
Jakarta, 27 Desember 2015


Komentar
Posting Komentar