Ia Tiada.
Aku menemukan ada yang membiru
kala sore itu. Dia berada di balik jendela berkaca bening menghadap pohon-pohon rindang dan
gedung lama di sekitar kampus. Bersandar pada tembok ia menikmati lagu dengan
penuh kelu. Aku tahu bahwa ia penuh ragu dalam bisu. Tak ada hujan, bahkan
hanya ada hawa panas di sepanjang hari. Aku menjelma dalam pikirannya. Aku
menjadi saraf penyambung otak dengan perasaannya. Ia terlalu tak dapat terjamah
karena sudah masuk ke dalam semestanya sendiri. TerIalu jauh dengan sisa
kekuatan yang dipunyai. Ia selalu menjadi manusia ketika ia berperan sebagai semesta
bagi beberapa orang kesayangannya. Ia terus memperjuangkan apapun tanpa
memikirkan merdekanya sendiri.
Ia sudah berada di antara senja dan malam.
Ia adalah pagi. Ia adalah siang. Ia adalah
sore. Ia adalah malam. Juga ia adalah dini hari. Begitu seterusnya. Tetapi ia
adalah ia yang tak pernah bisa menjabarkan dirinya sendiri, bahkan ketika ia
sendiri.
Ia adalah ia yang menjadikannya tiada.
Ia tiada.
Yogyakarta, 29 Desember 2015


Komentar
Posting Komentar