Pengingat: 14 April 2014

Rasanya kepalaku terlalu ramai. Sungguh ramai bukan dengan ketenangan seperti mata rantai. Setelah helaan napas kesekian, aku belum juga mampu mengeluarkan seluruh peluh pada keluhan. Sungguh kasihan. Aku masih pada pijakan, tapi terlalu banyak keruwetan. Sebelum waktu menunjukkan pukul pada angka nol aku sudah mengingat perayaan tanggalmu sehari sebelumnya. Bagaimanapun aku harus jujur, aku merasa sangat kehilanganmu beberapa bulan. Bulan-bulan yang biasanya kita isi dengan bualan berupa candaan. Tak ada lagi jarak ataupun batas apapun persoalan. Mulai dari kebiasaan, celetukan, sampai soal perasaan. Semuanya tentang masing-masing kehidupan. Aku merasa posisimu dalam kehidupan tak lagi sebagai teman, tapi sudah sampai batas persaudaraan. Apakah ini kerinduan?
Tak perlu omong kosong bagaimana cerita yang biasa aku sampaikan, semuanya sudah terkupas hingga kulit terdalam hingga cerita sebuah tangisan. Tentunya aku pun selalu ikhlas atas sebuah hubungan, iya kehidupan. Aku sudah berjanji dengan diri sendiri untuk tidak memaksakan sesuatu yang tidak selalu harus dilakukan.
Empat belas april, dua ribu empat belas..
Aku merayakan tanggalmu dalam doa semalam.
Tepat sebelum tidur, aku memejamkan mata beberapa detik untuk menunaikan doa.
Semoga kamu baik-baik saja, apapun keadaannya.
Hiduplah dalam hidupmu yang harus dikuatkan oleh kehidupan.
Lantas kamu harus juga memilih hak untuk sejumlah kebahagiaan.
Kamu harus mendapatkannya dengan logika yang relevan.
Berbahagialah, Mbak.
I love you.


Dear,
Mbak Lin

Komentar

Postingan Populer