(omong) kosong.
Biasanya pada keadaan setakut dan berujung kalut aku selalu mampu menuliskannya dengan kata-kata seperti biasa. Dini hari ini aku merasa terlalu kehilangan keseimbangan rasa. Ini semacam sudah berada pada fase menyerah pada jalan yang sudah lagi enggan digenapi dengan tapakan. Tadi berjalan perlahan, menghitung berapa kali air liur habis ku telan. Aku tidak biasa kehausan, pun dilengkapi dengan tangisan. Sudah tidak peduli lagi pada udara riuh yang sengaja aku tinggalkan. Aku memilih lekas diam dengan semua yang tertahan dengan takaran begitu menyakitkan.
Iya. Ini sebuah hal yang diluar kebiasaan. Pada akhirnya aku membuat keputusan. Entah sebuah keegoisan atau memang demi kebaikan. Aku memilih pada sebuah keputusan dengan tujuan menghargai sebuah keberadaan seseorang. Aku membuang semua harapan-harapan didalam pikiran. Banyak pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu jawaban. Pertanyaan seberapa takaran?atau seberapa berharga sebuah keadaan?
Iya. Ini sebuah hal yang diluar kebiasaan. Pada akhirnya aku membuat keputusan. Entah sebuah keegoisan atau memang demi kebaikan. Aku memilih pada sebuah keputusan dengan tujuan menghargai sebuah keberadaan seseorang. Aku membuang semua harapan-harapan didalam pikiran. Banyak pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu jawaban. Pertanyaan seberapa takaran?atau seberapa berharga sebuah keadaan?
Aku akan mencari jawabannya melalui kehidupan yang mulai ku rencanakan agar menjadi sebuah bangunan. Aku tidak pernah mau membuat rasa kehilangan atau kesedihan atas hidup siapapun. Sebab aku paham betul bagaimana rasa itu. Aku rasa semua manusia akan kembali pada sebuah keadaan yang sudah diketahui sebelumnya, semacam hanya menikmati waktu yang sudah disuguhkan Gusti. Sungguh ini hanya omong kosong dengan beberapa gerbong majinasi bak cerita fiksi.


Komentar
Posting Komentar