Aku sudah runtuh.

Hari minggu, tanggal sembilan maret, tahun dua ribu empat belas.
Tahun banyak harapan dengan angkanya yang sudah genap,
atau beberapa keinginan yang juga belum dapat terkabulkan secepat kilat.
Misalnya, masih ada sisa duka semalaman dengan memaksa mata untuk selalu terbuka
..membaca pikiran, meraba-raba jalan kebaikan, dan menerka-nerka akibatnya.
Sisa duka yang seharusnya berkurang jika berhambur ke pelukan seseorang,
membenamkan muka pada sebuah dada yang tenang.
Namun, keinginan lagi-lagi selalu tak berbanding lurus dengan realisasi.
Entah ini sudah pada hitungan ribuan yang sudah tak dapat digenggam.
Pada akhirnya dengan memaksakan berjalan untuk ketenangan, 
mengunjungi beberapa tempat yang mungkin memberi udara buatan.
Tepatnya, senja pada sebuah pantai yang memang datarannya lengkap dengan sejumlah kenangan.
"Aku sudah runtuh", katanya pada senja.
Senja mengembangkan ronanya sepanjang pandangan,
ia memeluk dengan udara yang benar-benar bukan buatan.
Si aku berdiri tegak membentuk siluet dan merekamnya,
katanya...keruntuhannya lebih riuh dibanding keabadian tapakan kaki orang yang diharapkannya.
Si aku percaya pada hidup yang membutuhkan keseimbangan.
Bukankah runtuh juga cara memadu-padankan menuju keseimbangan?


Komentar

Postingan Populer