Tetap Tanpa Tetap(-i)
Hari libur satu-satunya dalam seminggu dipakai untuk menemui saya seonggok daging penuh resah dari malam ke malam dengan mata basah. Dia benar-benar teman pada hakikatnya. Tak pernah hadir dalam hari-hari di media, tetapi menunjukan bentuk laku nyata. Meski dada bidangnya penuh sesak, saya tahu dia memiliki rasa peduli tinggi pada manusia. Berkali-kali ini yang tersimpul ketika kami berbicara soal hidup. Sesederhana keluar mencari udara dan selalu saja turut serta menjadi budak kapitalis meski dalam hati masing-masing enggan.
***
"Hm. Kamu akan support apapun pilihan yang saya ambil bukan?"
.
"Tentu. Apapun pilihannya, Nov. Seandainya kamu harus gabung dengan PKI sekalipun semisal masih ada di Indonesia, saya dukung. Mungkin hanya memberi masukan sedikit. Saya selalu dukung kamu."
.
***
Jika memang nanti kami sama-sama menemukan yang lain untuk hidup. Maka, biarkan kami tetap menjadi kami dengan segala tapal batasnya tetapi tetap terhubung. Manusia banyak; baik buruk yang menjadi penilaian secara relatif. Tetapi, menemukan teman untuk berbicara berulang-ulang masalah yang tanpa bisa diselesaikan mungkin satu banding seribu ilalang. Hangatnya menjalar saat menertawakan keadaan yang tak akan berubah atau saling melempar senyum menghindari diam untuk berpikir. Sepeduli itu, kami.
Jakarta, 19 Desember 2016


Halo mbak Novianna, boleh saya minta alamat emailnya? Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. :)
BalasHapus