Bibi (Meme')
Pulang dan ibu. Dua hal
yang selalu bersatu padu dan hampir aku tak menemukan ragu. Dulu kami memang
begitu, menjadikan beberapa hal yang sederhana dan begitu mudah untuk dilakukan
namun menjadi tabu. Waktu dan terbiasa
duduk diam masing-masing tanpa menuai perbincangan yang mungkin akan hangat
seperti secangkir teh pada pagi hari.
Aku pergi menyelamatkan
diri.
Aku pergi untuk
membenahi diri.
Aku pergi melihat satu
kota dan kota lain melalui kaca pada gerbong-gerbong.
Aku pergi seolah-olah
seakan berani.
Aku pergi dengan
doa-doa yang mengudara dalam isi kepala dan hati dengan sekadar harapan
dikabulkan Gusti.
Aku pergi.
Nyatanya, separuhku
adalah ibu sehingga ketika aku pergi…
Aku menjadi setengah
hidup dengan panggungan dan bermain peran sendiri.
Aku menuai jarak entah
berapa banyak kilometer setiap hari setelah aku memutuskan pergi. Ya, tentu
berjarak dengan ibu. Setelah berpisah kotakan ruangan yang tak lagi serumah,
aku seringkali menjadi semu. Hampir kala dini hari aku mencari diri sendiri.
Mencari-cari apa yang seharusnya sejak dulu disyukuri. Perbincangan dengan
jarak keintiman yang seakan berdekapan. Hangat dan begitu menenangkan. Atau
diam-diam bersebelahan dengan sejumlah keheningan yang asalnya dari kata dalam
kepala.
Setiap
kali berpulang yang mungkin dapat terbilang jarang, aku menjadikannya muara
yang selalu aku tuju. Selalu menjadi rumah yang paling aku rindu. Ibu juga
begitu. Tak ada tabu pada hal-hal yang memang layak diungkapkan untukku. Kami
menjadi seromantis itu. Kala bertemu selalu ada kecupan pipi dan sekadar
dekapan beberapa waktu. Entah kala aku berpulang atau bergegas pergi. Kami
selalu melakukan itu sejak kejadian yang akhirnya membiarkan aku pergi sendiri.
Ya, aku sendiri dengan ibu yang ikhlasnya tak dapat ditunaikan dalam hati. Kami
adalah dua manusia yang diam-diam ingin menyatu. Kini yang aku tahu, rumah
adalah ibu. Ibu adalah rumah utama satu-satunya milikku.
***
Iseh
terhitung tanggal dua bulan ke tujuh dalam tahun yang memiliki hitungan yang
ganjal. Seperti banyak keraguan dalam diri ketika pertama kali berada di
tengah-tengah kelompokan yang sama sekali belum dapat utuh dikenali. Kesederhanaan
yang layak disyukuri adalah kehangatan di tengah rasa dingin saat memandang
Gunung Agung tanpa ada yang menghalangi kecuali sinarnya mentari.
Bibi. Bibi Nyoman Rudi.
Aku memandangnya penuh
tanya ketika di balai banjar kala itu. Ia duduk tak sejajar dengan beberapa
yang memiliki kedudukan di dusun ini. Tubuhnya tak memiliki postur terlalu
tinggi, kakinya tetap jenjang, hanya cukup gemuk pada bagian dada hingga
pinggangnya. Rambutnya panjang namun tak terurai sebab berbentuk cepolan dengan
disematkan bunga seusai sembahyang. Bajunya jauh dari rapi, tetapi justru
terlihat begitu sederhana. Ketika semua berbicara mengeluarkan pesan-kesan, ia
tak banyak menguraikan kata-kata. Hanya beberapa dan aku menanam banyak
pertanyaan dengan melihat nanar matanya.
“Anggap
saja rumah sendiri ya, anggap saja bibi ibunya di sini.”
Suatu kali dalam sebuah
perbincangan empat mata antara aku dan dia. Sepenggal kalimat yang menenangkan dan
tak mampu terburai begitu saja dari
pikiran. Serupa ibu. Aku menemui jiwa ibu dalam tubuh lainnya. Sosok yang tak
lagi dapat dijamakkan berapa pun banyaknya sebab menjadi tempat sebaik-baiknya
keadaan. Setelah beberapa waktu tinggal di Iseh aku selalu resah dan
mencari-cari ibu ketika masih terjaga pada dini hari atau sekalipun menemui
pagi. Bukan tentangku, tetapi tentang sebuah ingin yang tak lagi mau membiarkan
ibu sendiri. Namun, kali ini aku sedikit dapat terobati dengan mengenggam
jemari tangan terhebat dan dekapan hangat. Ya, sosok bibi.
“Nak’e
harus memikirkan apa yang ada. Apa yang ndak ada, ndak usah nak’e pikirkan. Itu
akan menambahi pikiran saja.”
Kian hari aku kian
mengenali sosok bibi dengan selalu menjadi diri sendiri. Selain diam-diam
selalu mengamati, aku percaya bahwa hidup bibi pasti lebih memiliki arti. Pada
waktu sore, menikmati senja dengan apapun bentuknya, sebisa mungkin aku selalu
meluangkan waktu untuknya. Ya, duduk bersebelahan berdua menyimak satu-persatu
ocehannya. Bibi berumur sekitar tujuh puluhan. Namun, aku sama sekali tak
menganggap dia perempuan senja yang renta. Kami saling mengenal dan selalu
bertukar pikiran tanpa sungkan dengan semesta sebagai saksinya. Aku mengetahui
banyak hal darinya. Sekali lagi, sungguh luar biasa rupanya ia serupa ibu.
“Mungkin
memang sudah takdir ya. Kalau Tuhan memang mau begitu, apa yang sudah
digariskan. Saya akan selalu terima. Ikhlas menerima apa adanya.”
Hidup selalu
erat kaitannya dengan takdir.
Hidup adalah
tentang sebuah penerimaan seikhlas-ikhlasnya keadaan.
Seringkali manusia
mengalami fase menyadari tanpa diberikan sandaran oleh Tuhan. Terlihat seperti
bermakna menguji atau memuji sekaligus bersamaan. Sebab pada akhirnya, manusia
seringkali kembali sendiri tetapi tetap dapat berdiri pada pijakan sendiri.
Juga seperti sebuah kehilangan selalu tidak menyenangkan. Kehilangan seseorang
berbentuk manusia ataupun kehilangan sesuatu yang tak berbentuk seperti
perasaan.
Ya,
dua manusia terkuat menurutku adalah ibu dan bibi. Dua orang sekaligus yang aku
begitu sayangi saat ini. Mereka perempuan kuat yang aku miliki dan tentu
terlepas dari tangan laki-laki. Bibi serupa ibu dengan buah pikiran yang tak
melulu menggantungkan diri ke pundak lelaki. Mereka mengalami fase paling
melemahkan sebagai kaum perempuan bagiku. Namun, seburuk apa pun keadaannya
mereka selalu berani untuk tetap menjaga keutuhan diri juga anak-anaknya yang
disayangi sepenuh hati. Kalimat-kalimat bibi yang terus dimuntahkannya setiap
hari mulai mengendap di dalam kepala. Bahwa perempuan harus selalu kuat dan
tidak boleh menyia-nyiakan diri sendiri.
“Kita
jadi perempuan harus kuat, jangan mau dilihat selalu bergantung pada
laki-laki.”
Beberapa kejadian
berlalu dan selalu berakhir pada sebuah ingatan. Banyak kalimat mantra dari
bibi untuk menjalani hidup dengan takdir. Lalu biasanya aku hanya setuju dengan
cara mengamini. Aku percaya bahwa omongan ibu selalu baik hasilnya. Sebab tiap
saat ibu berucap doa, menanggalkan banyak keburukan lainnya. Aku tak pernah
menduga bahwa pada akhirnya hubungan kami lebih erat dari ikatan biasanya.
Bahwa kami telah memupuk jalinan perasaan apa adanya dengan sederhana sejak
pertama kali berdekapan berdua. Dan bahwa kami memang akan selalu ada.
***
Bali, 24 Agustus
2015 08:00 WIT


Komentar
Posting Komentar