Sudah angka dua
Melewati bulan November yang cukup basah dengan terlalu biasa
menikmati lelah ditambah duka cukup menyita di muka
kian melekat beban di punggung atau sesak di rongga dada,
kian bahagia menumpahkannya begitu saja padaNya
meluangkan waktu semampunya untuk sebuah iqra
sebab tak ada lagi kuasa
ibu tak lagi hadir dengan mudah di depan mata
logika selalu berkata hal macam itu hanya semata-mata
keluh yang dipanjang-panjangkan sementara
namun, ini seperti yang sudah diketahui sebelumnya
seperti keadaan di mana seluruhnya kaku membeku,
kecuali mata dan isi kepala
di mana mata selalu menjadi jendela bagi kepala
di mana mata selalu menjadi perantara cerita di dalam kepala
di mana mata selalu menjadi hal utama untuk mengalami bagian isi kepala
mata lalu isi kepala
sebab mata menjadi akibat isi kepala
isi kepala yang dihasilkan oleh penginderaan mata
selalu begitu rupanya
lalu dikait-kaitkan dengan waktu dan sejumlah kata
kembali dipenghujung usia belia
tak ingin merayakan untuk menandakan yang kian berkurang bernama usia
bak lainnya yang bahagia jika angka terus bergerak melaju bertambah
duka melebur dalam diam tanpa jeda
sudah berada di angka dua
sudah penuh dengan mempertaruhkan sebuah 'seharusnya'
semoga kata-kata yang disebut doa bersinggah pada ketetapan-Nya
semoga selalu ada baik-baik saja,
setidaknya pada keutuhan jiwa.


Komentar
Posting Komentar