Membenci keadaan membenci.
Saya membenci keadaan seperti ini. Kerap kali diredam agar tentram. Saya membenci keadaan dimana menghabiskan waktu untuk membenci orang lain. Apalagi membenci atau dibenci soal romansa. Itu sama sekali hal yang sia-sia.
Bagaimana bisa saya menjunjung tinggi bahwa 'perasaan tak dapat disalahkan' tapi saya ludahi berkali-kali. Saya mempunyai perspektif sebagai perempuan yang dibenci oleh perempuan lain karena rasanya tak terbalas oleh manusia berjenis kelamin laki-laki.
Kita itu sama, kita sama-sama perempuan.
Tolong, jangan katakan perempuan lain lajang, tengoklah cerminmu.
Sejalang apakah kamu?
Sebesar apapun upayamu, kalau laki-laki itu tak menuju padamu, kamu bisa apa?
Apa mau memaksanya?
Atau terus menulisnya dalam sajak-sajakmu?
Apakah itu mengubah keadaan?
Berhentilah, nanti kamu terlalu jatuh. Jatuh yang benar-benar jatuh.
Sadarilah, kita serupa; saya dan kamu...tetapi bahagianya saya tak pernah membenci 'perempuan' yang berbahagia dengan laki-laki yang tak dapat saya miliki seutuhnya. Saya juga tak pernah menyakiti 'perempuan' lain agar saya menjadi lebih baik-baik saja.
Saya muak. Ketahuilah saya benar-benar muak melihat caramu menutupi diri dengan semua kata-kata bak pujangga. Urusan perasaan kamu campur-adukkan dengan hubungan pertemanan.
Tidak masalah, saya sama sekali tidak masalah. Berapa banyak pun teman kamu renggut untuk kamu miliki. Berbahagialah kamu. Saya menghargai atas dirimu sendiri. Walaupun kerap kali saya mengeluarkan sumpah serapah tentangmu berkali-kali dalam hati. Merentangkan perbedaan dengan analogi logika dengan memenangkan diri sendiri. Iya, mungkin ini rasa benci. Apa kamu peduli? saya tak dapat menahan diri tak menuangkannya dalam tulisan. Hanya mencari-cari, mungkin ini cara menyembuhkan penyakit hati. Mungkin. Cara paling mujarab kata orang bijak ialah tetap menikmati bahagia walaupun dibenci. Saya sedang berproses dengan itu.
Lalu Non, tolonglah jangan kamu ajak turut serta teman-temanmu yang tak tahu apa-apa itu. Saya tak ingin melebarkan rasa benci selain kamu. Berkali-kali meyakini saya tidak membenci. Senyatanya, saya memang menemukan diri beraroma busuk dengan membalas kebencianmu.
Tidak, ini bukan rasa amarah. Saya hanya ingin serangkaian kata ini tahu, bahwa saya masih memiliki memori ingatan tentang sebagian keburukan dalam hidup.
Tentang kamu.
Kamu yang tidak menjadi bagian penting tetapi selalu menyakiti dengan kata-kata, dengan cara diam-diam menghasilkan duka. Kita sama, belajar tentang semua makna kata.
Tolonglah, terima hidupmu baik-baik.
Tolonglah, jangan dewasa hanya dalam kata-kata.
Tolonglah, hargai kedudukan sesama perempuan sebagaimana kamu menilainya dalam tulisan-tulisanmu itu.
Tolonglah, terima realita.
Dear, nona menyeramkan di sudut kota pelajar.


Komentar
Posting Komentar