Ah, sumpah serapah.

Saya mimpi buruk. Entah ini mimpi atau bukan. Baru saja tertidur kira-kira satu setengah jam lalu akibat ramainya pikiran. Lalu terbangun dengan kepala pening.
Saya benci kamu, Non. Sungguh betapa saya menjadi pembenci terhebat pagi ini. Saya tak dapat ditenangkan oleh diri sendiri, sebab masih menemukanmu menyebut-nyebut En dalam tulisanmu pertengahan tahun dua ribu tiga belas. Kalut ini datangnya juga tak dapat ditahan atau perlahan. Hasil dari kekalutan Senin pagi ini seperti biasanya
"Apakah saya harus pamit pergi dari En?"
Semacam rasa iba atau merasa-rasa bagaimana perempuan yang memendam rasa suka sejak lama.
Kita sama, bedanya saya lebih bahagia. Sebab sudah ada rasa lega ketika sudah memutuskan pamitnya bulat-bulat. Tak lagi dia saya sebut-sebut dalam sajak. Ini usaha saya yang begitu sangat keras.
En selalu berpesan jangan lagi memikirkan kehadiranmu yang senyatanya diluar lingkaran 'kami'. Bahkan En cenderung marah ketika namamu disebut-sebut dalam pembicaraan. Semacam subjek yang tak layak sebagai topik untuk bertukar pikiran. Biasanya, setelah bersinggungan dengan namamu kami berjarak bak kutub utara dan selatan. Ya, namamu. Sebab itulah, En selalu enggan membahasmu. En selalu ingin kami baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Tak saling adu bicara. Tak menghendaki rasa berjarak yang kerap kali ia keluhkan sebab membuat menjadi tak mengenali siapa saya. En mau tetap ada 'kami' tanpa ada subjek kamu didalamnya. Iya, seringkali ia menegaskan.
Dear, nona menyeramkan di sudut kota pelajar.
06:00 a.m, Monday 10-02-14

Komentar

Postingan Populer