[Kehilangan]



Katanya, kalau kita menuai sesuatu pastilah kan mendapatkan hasilnya—

Hidup ini terus berjalan, memang klise kedengarannya. Seperti kali ini saya yang memberanikan kembali menulis. Ini satu momen yang hebat, sungguh. Sebuah keinginan yang menjadi cita-cita sederhana, menjadikannya nyata. Sudah waktunya berdiri, jangan hanya berdiam diri.

Pada tahun 2017, setelah 6 bulan menganggur pasca wisuda Agustus 2016. Sebenarnya, tidak utuh 6 bulan karena rencana sebelumnya memang mengejar sekolah pasca sarjana. Rencana dibatalkan karena saya masih terpaut dengan sang ibu, pemilihan keputusan—meski rasanya sudah se-dewasa ini saya masih anak-anak baginya. Tak apa, pada masa ini saya nikmati dan justru berbangga karena tak semua bisa seperti saya. Ego saya dan ibu tak sama, salah paham (awalnya dendam pada keadaan), tapi baiklah saya harus kembali ke kota kelahiran dengan keputusan yang 25% milik saya pribadi.
Saya tidak bisa berpaling pada kota berhati nyaman. Selama menganggur, saya selalu kembali ke jogja kurang lebih setiap sebulan sekali dengan rentang waktu 2 minggu. Saya terlalu nyaman di sana, terlebih memang ada teman setia saling bertukar rasa. Tapi, bukan soal cinta yang ingin dituliskan karena akhirnya juga pada kehilangan. Kita tidak bisa melipat jarak dan menabung rindu sesingkat apapun.
Setelah sebelumnya dilarang ibu pergi tes kerja di jogja, saya masih mementingkan ego dan menuruti emosi. Maka, akhir tahun 2016, saya menggugurkan panggilan salah satu perusahaan BUMN karena butuh rehat stres berada di rumah luntang-lantung. Nyata, tiap orang beda-beda mengalaminya, tapi mungkin juga karena saya biasa begitu produktif semasa SMA-kuliah. Diam tanpa kegiatan, mengulang pekerjaan rumah tangga setiap hari-tanpa bertemu sesiapa, jadi masalah yang cukup menaik-turunkan emosi.
Angin segar datang, Januari akhir saya mengikuti tes di perusahaan bonafit swasta, terkenal dengan chinesetown. Saya tak keberatan justru senang kepalang, etos kerjanya tinggi. Saat itu, saya pikir “wah ini yang saya cari”. Lowongan pekerjaan itu saya dengar dari teman yang sudah bekerja di sana, kebetulan abangnya pun menjadi orang pusat. Saya pelajari serius dari mereka, semacam sudah yakin dengan apapun yang ada di depan. Siap dengan kehidupan penuh pekerjaan weekdays+Sabtu setengah hari, jarak yang jauh dari rumah—dekat kota tua (dengan antisipasi akan indekos), memperhitungkan income-outcome-saving, apa saja yang hendak dijadikan bahan cicilan supaya motivasi tinggi, ah segalanya sudah jauh melayang di kepala.
Namun, setelah semua tes yang kira-kira 5 tahapan begitu formal, saya tidak berterima kenyataan pada tes akhir. Di mana seharusnya sudah deal menjadi rezeki, hilang dibawa angin panas musim kemarau. Saya sakit, bukan hanya masuk angin, maag, atau darah rendah seperti biasa, jauh lebih mengacaukan hari-hari selanjutnya. Saya tidak berterima, organ utama untuk hidup dengan bernapas sebagai manusia tak dapat berfungsi dengan gangguan bakteri. Saya melakukan protes-protes pada Gusti, hingga akhirnya saya memang harus bertahan dengan berbagai usaha dan perjuangan. Menjalani pengampunan dosa dengan menerima pilihan-pilihan yang dipilihkan. Saya menghadapi ketakutan sebelum tidur soal organ-organ di dalam tubuh yang pemiliknya hanya Sang Maha.
Sakit itu sumbernya dari pikiran, tapi untuk satu ini siapa yang saya salahkan?
Keadaan?
Masa lalu yang tak pernah terpikirkan?
Atau memang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya kemungkinan?
-
Kalau memang itu salah kota berhati nyaman, tak apa. Saya tidak bisa menukar segala pengalaman kehidupan di kota membahagiakan itu. Buktinya, hingga saat ini saya masih terus berjalan bukan?
-
Kehilangan tubuh yang sehat lebih menyedihkan sepertinya dibanding pasangan, saya menjadikannya ia seperti bunga yang ditabur di makam. Memang harus ditinggal untuk menyebarkan wewangian. Sejak itu saya belum mau fokus pada hal-hal yang menguras tenaga lebih. Akankah?


-Opih-
*Cerita kehilangan asa, menghadapi hal-hal menakutkan luar biasa soal hidup—pada makna sesungguhnya

Komentar

Postingan Populer