Berpuisi (Lagi) Sore Hari

Pada sore yang saya terima dengan apa adanya
Tanpa senja, seperti biasanya selalu saya kejar; Sukab dengan Alinanya
Menikmati hari-hari pendek karena terjaga terlalu siang
Terlarut malam hingga dini hari, menanti kokok ayam yang suaranya jauh entah di mana

Pada sore yang selalu banyak bingung ingin apa
Jendela, gorden cokelat, juga tempat menggantung pakaian yang bergoyang
Semua berirama dalam sepi
Hingga saya tahu tenang adalah masuk alam dunia sendiri

Pada sore yang selalu saya nanti secangkir teh atau kopi
Dengan cukup udara bernapas, berpikir soal esok hari
Saya ini hanya wanita yang selalu menjadi kecil
Di mata siapa saja, ibu ataupun Gusti

Pada sore yang selalu berganti setiap hari
Bagaimana rencana hidup di kemudian hari?
Masihkah ditemui?atau hanya pasrah soal mati?
Puisi yang baru saja saya tuliskan menjadi saksi

saya terbiasa tersesap pada tiap kecengengan tangisan
Tak lantas mampu berkompromi ataupun berdamai
Bagai orang-orang menyerah tanpa mau berjuang
Jangan bilang lagi soal mimpi, kan ditemui sebuah belati
Ia telah mati ketika sore hari tak lagi berarti

Saya hanya menuai duka tanpa menanam sebelumnya
Bagai sayatan milik orang lain yang dicurinya diam-diam
Agar tak ada duka pada lain muka
Semesta sepertinya juga sepakat bahwa duka sering berpihak pada saya
Jadi, biarkan hening bukan berarti duka
Sebab kau tak tahu makna dibaliknya

“Lepaskan, dengarkan, biaskan yang membisu
Lepaskan, dengarkan, Biaskan yang membiru
Lepaskan, dengarkan, Biaskan yang membeku
Biru menghias langit, merasuk ke sisi
Relungan kelabu
Dan kita, awan yang kau tuju
Hilang dalam kelam
Tenggelam lantunku”

Yogyakarta, 21 September 2016
Rabu sendu
Nona kecil


*disertai kutipan salah satu lagu konser Kita Sama-sama Suka Hujan-Banda Neira, Layur, Gardika Gigih, dan lainnya*

Komentar

Postingan Populer