Menahan Kebutuhan Jiwa
Kebutuhan jiwaku melonjak saat melihat mata
Penuh tanya beserta jawaban bernama dugaan
Aku selalu suka melihat orang yang memiliki asumsi atas diri
sendiri
Tentu tak semata-mata, disertakannya pengetahuan juga
pengalaman
Kebutuhan jiwaku melonjak saat mendengar kata
Keluarlah ia dari mulut pria yang mencari apa dimana-mana
Aku selalu bahagia mendengar orang bercerita, apa saja
Tetapi tetap dengan isi yang tak renyah tak berarti
Kebutuhan jiwaku melonjak saat menerima sentuhan
Sikapnya menjaga seperti aku hanya satu tak ada yang lain
Aku selalu menerima perlindungan dari orang berniat baik
Tetapi tetap dengan batas lini dan bentuk laku
penghormatannya
Kebutuhan jiwaku melonjak saat perjalanan pulang
Sesalku tiba-tiba datang, mengapa kami berbeda
Menyoal kepercayaan yang katanya ciptaan manusia
Sebaiknya aku singkirkan soal kami yang akan menjadi kami
Kebutuhan jiwaku ku tanam dan tak ku biarkan tumbuh
Kami yang sama tapi berbeda tak boleh terus besar dalam
pikiran
Seirama dalam pikiran yang tak mampu ku kehendaki
Tak seharusnya membawa jiwaku berangan yang bukan-bukan
Kami hanya akan jadi seperti jika di masa depan
Maka ku usahakan atas diriku yang kuat tanpa sandaran
pikiran
Biarlah ia menjadi pria atas mata, kata, dan sentuhan
Tetap menjadi baik dan terhubung denganku hingga pada
akhirnya
Aku menerima kasih dari orang lain atas diriku
Sepenuh-penuhnya kebutuhan jiwaku
Biarlah ini berbatas lini yang disadari
Kataku di ujung perpisahan, “Baiklah, hati-hati.”
Napas panjangnya menyentuh jemariku
Kuterima sebagai bentuk kasih, Ngo.
Novi
5 Agustus 2016
22:57 WIB


Komentar
Posting Komentar